Aku Cuma Ingin
-prima heranita
Aku bosan menelurkan berbagai warna
Dalam lukisanku yang pasi, padahal ia tahu
Seberapa besar rasa rindu ini berkembang
Di dadaku.
Aku merasa muak dengan semua wajahmu
Yang ada dalam seluruh sket di lembarlembar kertas
yang terhenti pada dinding
kamarku.
Aku membenci segala polah yang terlanjur kumuntahkan
di hadapanmu, sampai kau enggan melihat wajahku
Bahkan fotoku yang terpampang
di album kenangan.
Aku tak mau lagi membuat berloyangloyang kue
Kesukaanmu, yang terpaksa kubiarkan membeku di ruang freezer
Tanpa pernah kuantarkan ke depan pintu
Rumahmu.
Aku cuma ingin menumbuhkan puisi di batinmu yang kosong, lalu membiarkanmu melahirkan makna baru di setiap baitnya meski dengan terbata harus kau eja sendiri. Agar kau tahu dan tak hendak bertanya padaku, mengapa aku tak bisa megatakannya dengan lebih baik?
Yogyakarta, 10 mei 2009
Ibarat Perpisahan
Apa yang membuatmu bersedih,
Bila ribuan hari kau lewati dengan kelahiran-kelahiran baru.
Biarlah malam menghilang,
Bulan pergi,
Juga dingin kabut di sekitar rumahmu
Menerabas keinginannya.
Ibarat perpisahan,
Kehidupan hanya laku singgah sementara,
Seperti perjumpaanmu dengannya.
Sekejap mata ia terlelap di antara bait puisi
Yang kau gores di lembar nisan baru.
Lantas seperti apa rasamu menimbang kematian,
Saat ia menjelang. Selekat inikah.
Serupa gugur bunga di hutan cemara,
Memandang kedatanganmu haru,
Lalu kepergiannya harus kutangisi dengan serupa apa
Bila bukan kedatanganmu yang semestinya kudahulukan
Agar kau mengerti, seperti apa kematian itu menjelang
Meski bukan padamu, melainkan padanya
atau selanjutnya padaku.
Lantas apa yang membuatmu bersedih,
Bila ribuan hari kau lewati dengan kelahiran-kelahiran baru
Atau kau masih mengenang gerhana
Yang menggelapkan purnamamu?
Lantas apa?,
Bila bait-bait puisi telah kau gores di nisannya
Yang basah oleh air matamu.
Yogyakarta, 2 juli 2009
Dwi s. Wibowo, mahasiswa PBSI 07.
Dongeng Sajak
Bersandar kata mengatas makna
Diikatnya pada sebait sajak
Tak ada hanya rayuan kini
Di pohon rimbun berbalut rindu
Akan tiba pada waktunya
Ketika lagu dituhankan para dewa
Surya begitu cepat menghilang hari ini
Tiba saatnya kembali mendongeng
Kisah jenaka pengantar lelap
Buat si buyung di pintu malam
Serahkan jiwa sejenak bersama mimpi
Esok pagi, hari baru menanti
Dilukis warna sejuta kisah
Anak manusia bercerita diri sendiri
Sajak Pengantar
Langkah bunga mengukir jejak
Tinggal cerita sejuta kenang
Hendak kemana kemudian nanti
Mengikut kaki diseret arus
Biarkan hati biar tertambat
Di satu tempat tersimpan kisah
Berputar waktu kelak menunggu
Menanti saat kembali semi
Takkan bosan hidup mengayuh
Sepanjang jalan seberang jurang
Berteman sepi memeluk rindu
Rumput mengering tanah berbatu
Berpayung takdir lewat ilalang
Sekian hari sekian lama
Ketika senja menikam fajar
Bulan menjauh kasih mentari
Kala nanti musim berganti
Berubah arah angin berhembus
Setiap saat nasib bicara
Insan manusia berteguh pinta
Mengharap tuhan belas kasihan
Sebatas kata berucap do’a
Fajar
Gelapku menunggu matahari terbit
Ketika bulan hendak menjauh
Aku ingin berlari ke masa itu
Dimana cahaya menjadi hidup
Membawa manusia kepada surga
Langit tak sekedar harap
Esok hari mungkin terlihat
Jingga kemudian putih
Putih kemudian jingga
Jingga kemudian hitam
Hitam kemudian jingga
Terus berputar
Tak henti roda mengikut waktu
Dari berjalan hingga berlari
Hari ini adalah esok
Esok mungkin adalah lusa
Lusa aku tak tahu
Lies kemuning, mahasiswa PBSI 09.
cerpen
SUTI KANGEN EMAK…
Cinta? Omong kosong.. Suti bosan dengan ocehan indah tentang cinta. Cinta telah mencuri emak dari sisinya. Emaknya kawin lagi waktu umur Suti 6 tahuk, emak lalu pindah ke Jakarta ikut suami barunya yang konon juragan kolor terkemuka. Emak meninggalkan Suti dan kakaknya Madi bersama bekas suaminya. “ Suti kangen emak..” rengeknya tak henti kala itu. Berbeda dengan Madi yang saat itu berusia 10 tahun, baginya emak adalah pengkhianat, bukan karena emak punya suami baru tapi karena emak tak pernah datang lagi, seolah keluarga lamanya cuma sampah yang terlupakan. Bapak yang lemah, merasa tak mampu mempertahankan rumah tangganya. Bapak sayang emak, tapi bapak takut pada emak. Emak pakai kebaya berpotongan rendah yang bikin dada kelihatan mbludag, bapak diam… Emak pakai pupur dan gincu menor, bapak diam… Emak sering jalan-jalan kepasar sendirian, bapak diam… Emak akhirnya minta cerai gara-gara kepincut juragan kolor yang dikenalnya dipasar, yang suka kasih diskon jika emak beli kolor buat Madi, bapak tetap saja diam.. Ke-diam-an bapak bikin Madi muak, Madi menyalahkan bapak atas kepergian emak, madi benci emak karena tidak sayang pada keluarganya. Sementara itu Suti tetap kangen emak, Suti terus bertanya- tanya mengapa emak pergi, Suti tak mengerti…
Sepuluh tahun berlalu, bapak sudah meninggal, Madi bulan lalu sudah kawin. Suti sendirian, sekian tahun hidup dengan bapak yang berhenti bicara dan Madi yang sinis sekaligus penggerutu membuat Suti muak dan bosan. Maka ketika kakaknya kemudian kawin dengan lonthe bernama Susi yang suka mangkal ditaman kota, Sutipun bergembira. Persetan madi mau kawin dengan kambing sekalipun, Suti tak perduli. Suti benci pada Madi, Madi tak pernah mengijinkannya bertemu dengan emak, Madi selalu mengancam akan merusak boneka Tedi kesayangan Suti jika suti terus merengek minta emak kembali, jika sudah begitu suti tak punya pilihan lain selain menurut dengan Madi karena Suti tak mau tedi dari emak rusak, Suti juga masih menyimpan semua barang- barang emak termasuk konde penuh kutu yang dulu lupa dibawa serta oleh emak, Suti memasukkan barang- barang itu kedalam kotak sepatu Bata bekas madi SD dulu dan menyimpannya dikolong tempat tidurnya.
Akhirnya seminggu setelah kawin Madi pun pergi, sementara itu Suti teringat pada emak, Suti tetap kangen emak. “ Suti harus cari emak...”, batin Suti saat melepas kepergian Madi dan istrinya yang hendak ke purwokerto, daerah asal istri Madi. “Mau hanimun..”, kata Madi, Suti tak paham benar apa maksudnya, perkataan Madi itu malah terdengar seperti lalapan kesukaan emak dulu. Suti ingat emak, Suti kangen emak..
Keesokan harinya Suti langsung berangkat mencari emak. Berbekal foto hitam putih yang sudah menguning dan pinggirannya sudah melengkung, tak lupa juga dus sepatu berisi barang-barang emak yang kini sudah jadi rongsokan. Di dalam foto terlihat wajah emak yang tersenyum manis, emak dulu cantik, entah bagaimana rupanya kini.
Terbayang dibenak Suti, betapa emak akan sangat gembira bertemu dengannya. Mereka akan membicarakan banyak hal, membayar tahun-tahun perpisahan mereka. Setibanya Suti di terminal, dengan penuh semangat ia melompat masuk ke dalam bis yang akan membawanya ke Jakarta.. Setibanya Suti di Jakarta, ia lalu menyusuri jalan mencari pasar Tanah Abang. Dulu ia sempat mencuri dengar saat Bu Waluyo tetangganya bercerita pada Madi bahwa ia bertemu dengan emaknya di Tanah Abang, usaha kolor suami emak paling sukses disana. “Prek..”, sahut Madi kala itu.
Dugaan Suti benar, tak sulit menemukan kios kolor emaknya. Kios Mbak Wanti, emak Suti memang paling besar di pasar itu. Tak hanya jualan kolor, kini usaha emak dan suaminya berkembang pesat, dikios kolor emak itu juga dijual daster,baju bayi hingga “underwear”, kata tertulis diatas potongan kardus bekas yang digantung diatas tumpukan pakaian dalam. Selintas muncul pertanyaan didalam kepala Suti, apa hubungannya underwear dengan kutang yang ditumpuk berkodi-kodi dibawahnya? Yang Suti tahu bahwa kemungkinan Underwear itu adalah kata dalam bahasa Inggris, maklum saja Suti hanya tamat SD, jadi ia tak sempat belajar banyak tentang bahasa Inggris. Kekaguman muncul dihat Suti, suti berpikir bahwa emaknya pasti benar-benar sukses sekarang. Buktinya emak bahkan jualan barang-barang bule..
Setelah cukup lama melamun, akhirnya seorang penjaga kios yang judes berlogat Jawa menegurnya.. “Sampeyan ini sebenernya mau beli ndak to..??!!” Sutipun lalu mengungkapkan maksudnya bahwa ia mencari perempuan pemilik kios itu. Suti sengaja tidak memberitahukan jati dirinya dengan maksud ingin memberi kejutan pada emaknya. Kemudian sesosok perempuan setengah baya keluar dari bagian dalam kios. Perempuan tambun itu berkaus ketat dan bercelana lepis, orang lain yang melihat pasti beranggapan bahwa pakaian itu terlihat norak dipakainya. Tapi entah mengapa Suti malah takjub, bagi suti perempuan itu keren dan gaya.. Pasti kini emak juga berpakaian macam itu, tapi emak lebih cantik tentunya.
“Ade ape nyari aye? Aye sibuk ni kagak ade waktu buat ngeladenin orang minta sumbangan kaya situ, lain kali kalo cuma mo minta duit langsung aje minta pegawai aye, kagak usah pake minta ketemu aye segala dah!!!” Perempuan itu nyerocos panjang, Suti terkaget-kaget mendengarnya.. “ssaya aanak bbu Wanti, apa ibu Wantinya ada?” Suti bicara takut-takut. Si ibu tambun itu tak disangka-sangka malah memelototi suti. “ Oh jadi lu anak si Wanti? Eh, denger ya mak lu itu udah minggat dari sini, dia kabur sama agen TKW yang ngejanjiin bakal ngasih kerjaan kantoran di Arab. Dasar perempuan gile, udah jadi istri mude laki gue, masih aja selingkuh sama daun muda!! Sekarang lu cepet minggat dari sini, gue kagak sudi ngeliat darah dagaing Wanti!! Pergi lu, PERGI!!!” Perempuan itu kalap dan berteriak-teriak menyumpah-nyumpah, Suti lari ketakutan, pikirannya kacau. Ucapan perempuan itu benar-benar meruntuhkan semua khayal tentang emaknya. Suti berlari, terus berlari sambil memanggil-manggil emaknya. Teringat pula ia kepada Madi kakaknya yang sangat benci kepada emak, barulah ia dapat merasakan kemarahan Madi selama ini, Suti ingat bapak yang sangat terpukul dengan kepergian emak. Suti ingat malam-malamnya yang ia lewati dengan meratap, “Suti kangen emak.. Suti kangen emak…” Suti terus berlari, air matanya terus mengalir. Suti tak tahu harus berbuat apa…
“..Suti kangen emak..Suti kangen emak..” ratap Suti. Suti Sedeng, sebutan para pedangang pasar untuknya, Suti jadi gila gara-gara kerinduannya pada emak, Suti tak pernah lagi pulang ke rumah, ia tak pernah beranjak dari Tanah Abang, dari pagi hingga senja Suti terus berjalan mencari emak. Ditengah keheningan malam masih terdengar suti meratap di pinggiran kios kolor yang sudah tutup, “Suti kangen emak.. Suti kangen emak..” rintihnya sambil mengelus-elus kepala tedi yang kupingnya nyaris putus..
eko bowo saputro, aktifis teater kini tinggal dan bekerja di yogyakarta
Maniak Dimpil
Slamet baru ketiban sial, tidak mampu berontak dari kepungan warga. Dalam sebuah gubuk warisan orang tuanya, di pinggiran kota Yogya, Salmet tinggal seorang diri. Nasibnya ngenes, setelah di PHK. Selama dua tahun bekerja di Jakarta sebagai cleaning servis, tidak menghasilkan apa-apa.
“Saya cuma tukang sapu saja kok bisa diberhentikan. Nanti kalau tidak ada saya bagaimana. Pasti kan tidak ada yang nyapu, kotor penuh debu. Perampingan, mas Slamet perampingan!” gumamnya dalam batin sambil meniru kalimat terakhir atasannya, yang tak lain adalah kepala bagian rumah tangga di perusahaan tempat ia bekerja.
Maklum, Slamet hanya lulusan SD. Jabatan apa yang paling pantas untuknya. Tidak punya ketrampilan khusus, dam besar dilingkungan keluarga yang ekonominya pas-pasan. Mau membuka usaha, tidak ada modal cukup. Baca tulis pun gagap.
“Sudah Kang, aku mau pulangkan ke rumah orang tuaku. Thole ikut saya, nanti kalau ikut bapaknya malah tidak jadi dandanan” celoteh istrinya pada suatu malam.
Semakin lama istri juga tidak betah tinggal di rumah peninggalan orang tua Slamet di Yogya. Slamet pun pasrah, menerima keputusan Tumirah. Bergegas Tumirah masuk kamar, membuka lemari dan memasukkan pakaiannya ke dalam kain, lalu mengikatnya. Thole yang meringkuk di sebelah tempat tidur berkali-kali mengusap air matanya sambil sesekali sesenggukan. Menangis, melihat emak dan bapaknya seperti habis main gulat di atas ring.
Di tembok rumahnya, yang sebagian tersulam triplek usang Slamet bersandar. Mencabuti rambutnya yang ikal. Penuh tatapan kosong dan nanar. Mukanya semakin kusam. Musam tak karuan. Melihat si Thole digeret keluar rumah oleh Tumirah.
“Tum, jangan pergi to. Aku akan mencari pekerjaan lagi. Mbok, sabar bentar. Kan memang saya masih bisa usaha lain,” rengek Slamet berusaha mencegah langkah istrinya kala itu.
“Sudah, Kang! cukup. Aku pamit, Kang! Pulang ke rumah bapak, aku tidak tahan lagi” sembari sesenggukan dan tertatih. Tangan kanan membawa buntalan pakaian dan tangan kirinya menarik si Thole. Anak semata wayang mereka yang masih suka minta mainan.
Tumirah berjalan cepat keluar rumahnya. Tanpa berpaling muka, sembari menutupi pelipisnya yang lebam dengan wajah kecewa agar tidak diketahui para tetangga. Lukanya membiru siang itu, bekas kena pukul kepalan tinju suaminya.
“Maafkan aku, Tum! Maaf, Tum”. Seperti ada beban berat, Slamet mencoba berdiri. Tapi tak kuasa, akhirnya tersungkur ke lantai. Tas Tumirah sempat diraihnya, tetapi tarikan kuat istrinya membuatnya tak kuasa. Terlebih, pengaruh minuman keras yang sedari malam belum sirna baunya.
Ia meronta di lantai, menjejak panci yang tergolek. ‘Krompyang”. Suara panci, terbang membentur kaki kursi. Keningnya mengeluarkan darah. Bekas pukulan termos yang dihantamkan Tumirah.
“Kang Slamet jarang pulang, Yu. Aku sendiri bingung. Sejak pulang dari Jakarta, dia suka keluar malam terus. Semua barang-barang di rumah dibawanya pergi. Pulang pagi, terus marah-marah. Aku sering dipukul, Thole terus-terusan nangis” kata Tumirah pada Yu Darmi.
“Yoh, yang sabar to, Mbak Yu. Mungkin dia sedang mencari pekerjaan, dan butuh modal”.
“Tapi,…..” belum selesai Tumirah melanjutkan, Thole merengek minta balon yang ada di seberang warung Yu Darmi.
“Mak, mi…min….mi…minta balon” rengeknya sambil geret-geret tas plastic yang ditenteng Tumirah.
“Apa to, Le! Jangan digeret-geret nanti tas kreseknya sobek”. Dalam perjalanan pulang dari warung Yu Darmi itu, ia menjadi diam. Thole yang menangis terus hanya dibiarkan. Digendong, ada dalam pelukannya.
Sedari kemarin malam, suaminya belum pulang. Kabarnya main di rumah Marjuki, komplotan dimpil maniak. Bertemu dengan teman-teman lamanya, main kartu sambil nenggak lotse. Tumirah bertemu dengan Slamet ketika bekerja menjadi pembantu rumah tangga di rumah Pak Urip. Setiapkali pulang dari pasar, Slamet selalu menunggu di depan pasar dengan becaknya.
“Witing tresno jalaran soko kulino” bisik hati Tumirah diikuti sunggingan tawa kecil dari bibirnya yang mungil. Itu pertamakali bertemu dengan Slamet di sebelah barat pasar Bringharjo. Kenangan paling indah dalam hidupanya. Tak terbayangkan dirinya bisa jatuh cinta selayaknya adegan film-film roman yang pernah ditontonnya waktu mas dan mbak mahasiswa kota KKN dikampungnya menggelar layar tancep dilapangan sepak bola.
Slamet berleha-leha dibangku becaknya, sambil kipas-kipas dengan topi kain berbentuk bulat. Handuk putih yang warnanya sudah kusam, kecoklatan, disampirkannya dibahu. Kakinya, njinggrang, leyeh-leyeh menanti obyekan. Seperti judul film Cinta Pertama yang datang dari pandangan lalu turun ke hati. Tumirah menjadi mabuk kepayang. Hingga ia memutuskan kawin dengan Slamet, dengan acar pernikahan yang sederhana.
Tak berapa lama setelah pernikahan itu, Tumirah diboyong ke rumah warisan orang tua Slamet yang ada di Yogya. Selang tiga bulan, becak Slamet amblas di meja judi. Di rumah Marjuki, alat transportasi yang digunakan untuk mencari sumber nafkah satu-satunya lepas. Slamet kalah judi di meja adu kartu cino. Dan, tujuh bulan kemudian, Slamet memutuskan mencari pekerjaan di Jakarta. Sedangkan, Tumirah yang sudah bunting, di rumah sambil jualan gorengan.
Hari itu, genap sudah kesialan Slamet. Setelah Tumirah pulang ke rumah orang tuanya dengan Thole. Slamet yang menjadi buron aparat, berniat kembali beraksi ndodos rumah kosong yang tak jauh dari kampungnya. Ia berhasil masuk rumah itu melalui atap. Beberapa genteng disingkirkan pelan. Saat kakinya hendak menginjak kayu rengan, kepleset dan njeblos ternit.
Merasa berhasil masuk ke dalam rumah, Slamet menentukan siasat menguras isi rumah. Namun yang dicari-cari tidak ketemu. Perhiasan berupa gelang, kalung, dan uang yang dicarinya tidak diketemukan sama sekali. Ia tidak menyadari kalau aksinya dikuntit beberapa warga kampung yang sedang ronda malam.
Kontan, rumah itu disergap. Dan, Slamet menjadi tak berkutik. Di seret dari dalam rumah, digebuki dan dijadikan bal-balan oleh warga sekitar. Apes betul nasib Slamet. Genap sudah penderitaannya, kini ia tinggal meratapi nasibnya di balik jeruji besi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar